Rabu, 28 Desember 2011

Mendaki Makna


Sebuah perenungan, meski sadar atas kefakiran kebijaksanaan yang kumiliki, dalam sebuah kemiskinan pengetahuan yang ku dapati, dan dalam sebuah kesempitan pemaknaan yang tertakdir untukku. Tetap ku paksakan pikiranku untuk mengira dan mereka-reka. Jika sebuah simbolisasi terhadap sesuatu berkemaknaan sebuah transfer nilai yang seharusnya didapatkan. Maka menjadi seorang dokter rasanya bukan sebuah algoritma sederhana. Dalam ilmu seni terdapat sebuah ilmu yang mempelajari sebuah detiail tentang warna termasuk di dalamnya sebuah arti besar atas warna apa yang menjadi simbol atas sebuah profesi.

Menengok apa yang selalu dikenakan seorang dokter ketika berhadapan dengan seorang yang membutuhkan pertolongan. Putih, memang tidak ada sebuah aturan tertulis bahwa seorang dokter diharuskan mengenakan jas atau baju berwarna putih. Yang di tuliskan disana adalah sebuah syarat bahwa pakaian yang dikenakan harus bersih dan rapi. Hal ini bertujuan demi kenyamanan bersama. Namun warna putih yang demikian melekat pada pemangku jabatan penolong kesehatan ini terasa demikian dekat. Setidaknya warna itu kemudian menjadi sebuah simbol bahwa warna putih dengan makna sucinya, dengan makna tegas, jujur, netral, mengandung sebuah transfer nilai yang tidak sekedar simbolisasi atas nilai-nilai tersebut. Namun juga sebuah upaya transfer akhlak, transfer keyakinan, transfer intelektualitas dan tranfer persejawatan. Tidak sederhana bukan.

Jika kita kemudian menengok ke samping di sekitar kita. Bisa kita temui. beberapa profesi lain yang juga menggunakan simbolisasi warna tersebut. Diantaranya chef atau koki. Atau seorang rohaniawan. Jika koki mengenakan pakaian putih dengan pemaknaan sebuah kebersihan, yah, namun apakah yang mereka rasakan ketika apa yang mereka siapkan dinikmati oleh pemesannya dengan rasa nikmat. Ternyata itu adalah sebuah pencpaaian yang demikian dahsyat. Bahkan mereka memasak dengan sebuah daftar bahan dan cara memasak dengan detail dan tuntunan yang apik dan rapi dan mereka menyebut lembar-lembar itu dengan resep. Dan ketika lembaran-lembaran itu dikumpulkan dan dibukukan mereka menyebutnya buku kumpulan resep. Maka kita belajar sebuah cita-cita dari seorang chef dengan pakaian putih yang mereka kenakan. Yaitu suatu prinsip kepuasan mereka dari kelelahan berdiri menyiapkan makanan dan menyajikannya adalah ketika penikmatnya kemudian memakan masakan mereka dan menunujkkan sebuah ekspresi bahagia luar biasa.

Chef dengna putih mereka adalah kebahagiaan ketika orang lain merasa kan kebahagiaan atas buah dari karya kita. Dari kemanfaatan kita.

Rohaniawan. Dari agama apapun kecenderungan emngenakan putih demikian kental. Meraka adlah tokoh dan manusia terpilih oleh alam yang telah mengabdikan diri sejak di awal kehidupan mereka untuk tunduk semaksimal mungkin. Atas perintah, atas kemauan dan atas ajaran yang diberikan agama dan keyakinan mereka. mereka adalah pengampu tanggung jawab atas keberlangsungan pemaknaan manusia akan diri mereka sehingga mereka mampu mengenali tuhan mereka. rohaniawan itu mencerahkan bagi yang berhadapan dengan kesuraman, menunjukkan jalan bagi kebingungan untuk memilih, mereka menenangkan bagi siapapun yang di hinggapi gundah. Dan mereka adalah wakil semesta untuk mengingatkan bagi siapapun yang lupa. Tidak pernah seorang rohaniawan kyai, ustadz, pastur, atau apapun sebutan bagi rohaniawan tersebut kemudian membedakan bahwa ketika seorang yang kebingungan tersebut adalah orang kaya maka bimbingan yang diberikan lebih istimewa dibanding kepada yang miskin. Tidak akan pernah kita temui bahwa seorang yang dari suku jawa kemudian diperingatkan dengan cahaya yang menyejukkan sementara yang lain sunda, batak, bugis, disinari dengan cahaya menyilaukan dan membakar. Dan tidak akan pernah kita temui para rohaniawan tersebut menempatkan kepentingan mereka diatas kepentingan umat mereka.

Sungguh putih yang mereka kenakan adalah sebuah syair kejujuran, sebuah bait-bait ketulusan, sebuah karya atas pengorbanan dan indahnya membagi cahaya kepada sesama.

Pendidikan kami selama bertahun-tahun untuk kemudian memiliki hak istimewa untuk menjadi bagian pemangku kewajiban mulia untuk menoong sesama manusia ini. Kami perlahan dikenalkan atas warna putih jas praktikum kami. Di sentuhkan dengan warna putih kemuliaan dan tanggung jawab atas pilihan kami. Sampai akhirnya di sebuah titik kami disahkan untuk memangku jabatan kedokteran.

Kemudian, menjadi seorang dokter adalah sebuah pendakian sahabatku. Menuju sebuah derajat menusia yang bertanggung jawab atas sebuah kehidupan. Yang menjalin sebuah kerja dalam makna yang se-istimewa para koki yang kemudian dapat belajar turut merasakan bahagia, ketika orang lain merasakan kenikmatan dan kesenangan. Tanpa lagi mengenal istilah dendam, iri, dengki ataupun hasut dalam kamus jiwa pengabdi tersebut.

Atau mendaki lebih jauh sahabatku. Ibarat seorang pertapa yang berusaha sekuat tenaga sehingga nantinya mendapat pusaka berupa hati dan jiwa besar. Sehingga berani untuk mengambil peran dan mengawali langkah ibarat seorang rohaniawan yang jujur, tulus, rela berkorban dan menjunjung tinggi sebuah hasrat tak ter peri untuk kebaikan orang lain dengan mendahulukan kepentingan yang membutuhkan di atas kepentingan pribadi. Ya, diatas kepentingan pribadi. Apalagi diatas kpentingan politik, kepentingan pemangku jabatan, kepentingan warna partai, korporasi farmasi ataupun asuransi yang tentu seluruhnya akan bermuara pada satu lokasi. Yaitu kepentingan pengumpulan harta diatas kepentingan pertolongan bagi sesama.

Selasa, 27 Desember 2011

memulai

Dalam setiap langkah dan keputusan. Tidak terkecuali apakah itu dalam memilih untuk menjadi seperti apa kita di masa depan. Bagian termudah adalah untuk menjalaninya dengan seperti air mengalir. Tapi apakah kemudahan itu bernilai absolut. Hehehe....(terkekeh,,,...)

Bahkan tidak menjadi apa-apa juga terdapat sebuah kemuliaan. Menganggap diri adalah makhluk utusan tuhan karena pengetahuan yang dimiliki rasanya adalah sebuah ke-picik-an egoisme pribadi. Sosok yang senantiasa menata rambutnya tetap rapi, memotong jenggotnya, merapikan jambangnya, berpakaian licin warna putih, dan nada bicara santun tak ter peri. namun ada sebuah makna yang terkadang lupa. Sungguh,,,,kita datang, duduk, menanyakan keluhan. Rasanya pekerjaan itu hanya sebuah beban tidak ada kesenangan yang terlahir.

Aku sedang tidak ingin menulis karena aku tidak ingin membagi atau mungkin aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kubagi kepada sahabatku, atau setidaknya kepada diriku sendiri di masa depan. Hahaha. Menertawakan kemalasanku, mengingatkanku pada cerita cak nun tentang seorang tokoh di daerah yang akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif., apa yang terjadi komentar seorang tukang becak “ buang air besar saja membawa cemeti. Supaya ikan tidak mendekat untuk menikmati kotorannya” derajat pelit yang berat. Di jawa ini adlah idiom untuk gambaran keserakahan manusia tingkat tinggi. Nampaknya kemalasanku dapat di kriteriakan menjadi sebuah derajat pelit yang makomnya lebih amat jauh diatas makom pelitnya sang calon legislatif. Karena aku pelit tidak hanya kepada orang atau makhluk lain tapi aku juga pelit pada diriku sendiri. Tapi sadar atau tidak. Siapa yang peduli.

Semudah-mudahnya menjadi seorang dokter tetap tidak sesederhana yang dibayangkan. Sumpah hipokrates itu. ah, enggan membahasnya disini. Kata-kata sederhana dengan implikasi yang berat. Yang mengharuskan siapapun untuk tidak membedakan apakah yang kita tolong adalah seseorang yang terancam nyawanya setelah dia ditembak polisi karena telah melakukan pemerkosaan kemudian merampok dan membunuh korbannya. Atau bahkan tidak membedakan seorang yang dengan jabatan diembannya kemudian memanfaatkannya untuk mengeruk uang rakyat. Sah ataupun tidak. Padahal di saat yang sama. Ada puluhan bahkan ratusan balita di bawah garis merah (kriteria kurang gizi untuk balita) yang akhirnya hanya harus menjalani kehidupannya dan amsa depannya dengan prinsip nerimo ing pandum. Atau menjadi lebih buruk lagi, seorang yang ku kenal secara pribadi berprofesi ah gundah rasanya menyebut “kelakuan” itu sebagai profesi. Anggap saja ,tindakan rentenir tak beradap yang meminjamkan dalam jumlah tertentu. Namun kemudian, akhirnya si terhutang harus membayar lebih dari 300% dari nominal pinjaman. Lalu tokoh antagonis tersebut datang dengan keluhan sakit kepala karena tekanan darahnya menginjak angka 150 atau bahkan lebih. Sungguh tidak mudah,,iya tidak mudah.

Tapi ternyata mingkin kembali. Satu-satunya alasan yang meringankan langkah mengayun, dan memudahkan lengan menyentuh adlah bahwa apa yang mereka lakukan aalah urusan mereka dengan tuhan mereka. Urusanmu dengan tuhanmu adlaah ketika kewajiban yang kau miliki tidak kau tunaikan, kewajiban sebagai seorang dokter tidak terlaksanakan. Rasanya itu adalah urusanku dengan tuhanku.

Di negaraku, tidak ada yang sederhana. Bahkan tidak menjadi apa-apa adalah bukan langkah mudah untuk menjadi sederhana dan tidak repot. namun adalah sebuah keniscayaan ketika kita kemudian menjadi apa yang telah di takdirkan untuk dijalani. Maka penunaian kewajiban adalah syarat ,mutlah untuk kesana. Yang pasti, energi tidak dapat diciptkan, energi tidak dapat dimusnahkan, tetapi energi dapat berubah bentuk. Maka dengan kesadaran penuh dalam sebuah bilik kamar jaga dokter UGD RSUD di daerah barat jawa timur, aku berdoa semoga apa yang ku lakukan adalah sebuah perwujudan energi positif. Sehingga nanti dapat kugunakan sebagai wasilah,,,berdoa semoga diriku ditakdirkan menjadi apa-apa bagi lebih banyak orang. Dan penciptaku tersenyum memandang apa yang terjadi di luasnya ciptaanNya yang lain.