Selasa, 27 Desember 2011

memulai

Dalam setiap langkah dan keputusan. Tidak terkecuali apakah itu dalam memilih untuk menjadi seperti apa kita di masa depan. Bagian termudah adalah untuk menjalaninya dengan seperti air mengalir. Tapi apakah kemudahan itu bernilai absolut. Hehehe....(terkekeh,,,...)

Bahkan tidak menjadi apa-apa juga terdapat sebuah kemuliaan. Menganggap diri adalah makhluk utusan tuhan karena pengetahuan yang dimiliki rasanya adalah sebuah ke-picik-an egoisme pribadi. Sosok yang senantiasa menata rambutnya tetap rapi, memotong jenggotnya, merapikan jambangnya, berpakaian licin warna putih, dan nada bicara santun tak ter peri. namun ada sebuah makna yang terkadang lupa. Sungguh,,,,kita datang, duduk, menanyakan keluhan. Rasanya pekerjaan itu hanya sebuah beban tidak ada kesenangan yang terlahir.

Aku sedang tidak ingin menulis karena aku tidak ingin membagi atau mungkin aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin kubagi kepada sahabatku, atau setidaknya kepada diriku sendiri di masa depan. Hahaha. Menertawakan kemalasanku, mengingatkanku pada cerita cak nun tentang seorang tokoh di daerah yang akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif., apa yang terjadi komentar seorang tukang becak “ buang air besar saja membawa cemeti. Supaya ikan tidak mendekat untuk menikmati kotorannya” derajat pelit yang berat. Di jawa ini adlah idiom untuk gambaran keserakahan manusia tingkat tinggi. Nampaknya kemalasanku dapat di kriteriakan menjadi sebuah derajat pelit yang makomnya lebih amat jauh diatas makom pelitnya sang calon legislatif. Karena aku pelit tidak hanya kepada orang atau makhluk lain tapi aku juga pelit pada diriku sendiri. Tapi sadar atau tidak. Siapa yang peduli.

Semudah-mudahnya menjadi seorang dokter tetap tidak sesederhana yang dibayangkan. Sumpah hipokrates itu. ah, enggan membahasnya disini. Kata-kata sederhana dengan implikasi yang berat. Yang mengharuskan siapapun untuk tidak membedakan apakah yang kita tolong adalah seseorang yang terancam nyawanya setelah dia ditembak polisi karena telah melakukan pemerkosaan kemudian merampok dan membunuh korbannya. Atau bahkan tidak membedakan seorang yang dengan jabatan diembannya kemudian memanfaatkannya untuk mengeruk uang rakyat. Sah ataupun tidak. Padahal di saat yang sama. Ada puluhan bahkan ratusan balita di bawah garis merah (kriteria kurang gizi untuk balita) yang akhirnya hanya harus menjalani kehidupannya dan amsa depannya dengan prinsip nerimo ing pandum. Atau menjadi lebih buruk lagi, seorang yang ku kenal secara pribadi berprofesi ah gundah rasanya menyebut “kelakuan” itu sebagai profesi. Anggap saja ,tindakan rentenir tak beradap yang meminjamkan dalam jumlah tertentu. Namun kemudian, akhirnya si terhutang harus membayar lebih dari 300% dari nominal pinjaman. Lalu tokoh antagonis tersebut datang dengan keluhan sakit kepala karena tekanan darahnya menginjak angka 150 atau bahkan lebih. Sungguh tidak mudah,,iya tidak mudah.

Tapi ternyata mingkin kembali. Satu-satunya alasan yang meringankan langkah mengayun, dan memudahkan lengan menyentuh adlah bahwa apa yang mereka lakukan aalah urusan mereka dengan tuhan mereka. Urusanmu dengan tuhanmu adlaah ketika kewajiban yang kau miliki tidak kau tunaikan, kewajiban sebagai seorang dokter tidak terlaksanakan. Rasanya itu adalah urusanku dengan tuhanku.

Di negaraku, tidak ada yang sederhana. Bahkan tidak menjadi apa-apa adalah bukan langkah mudah untuk menjadi sederhana dan tidak repot. namun adalah sebuah keniscayaan ketika kita kemudian menjadi apa yang telah di takdirkan untuk dijalani. Maka penunaian kewajiban adalah syarat ,mutlah untuk kesana. Yang pasti, energi tidak dapat diciptkan, energi tidak dapat dimusnahkan, tetapi energi dapat berubah bentuk. Maka dengan kesadaran penuh dalam sebuah bilik kamar jaga dokter UGD RSUD di daerah barat jawa timur, aku berdoa semoga apa yang ku lakukan adalah sebuah perwujudan energi positif. Sehingga nanti dapat kugunakan sebagai wasilah,,,berdoa semoga diriku ditakdirkan menjadi apa-apa bagi lebih banyak orang. Dan penciptaku tersenyum memandang apa yang terjadi di luasnya ciptaanNya yang lain.

Tidak ada komentar: