Kamis, 12 Februari 2009

Berkah Kardus Dari Surga

Pagi seakan masih enggan untuk segera mengijinkan siang datang. Mendung dengan kawalan udara sejuk semakin menyempurnakan indahnya panorama rembulan yang tengah menyunggingkan senyum. Bertaburkan aroma asmara dan parutan cinta, dia terbangun. Entah apa yang begitu saja menyibakkan kelopak matanya yang ranum bak melati ditaman. Senada dengan kelembutan dia lalu mendudukkan diri. Sejurus kemudian melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu yang tepat di depan tempat tidurnya. Lalu dibuka pintu itu dan dia ayun kedua kakinya untuk melangkah. Setelah mereguk segelas air putih lalu dia menuju kamar mandi. "Tidak pernah ada firasat apapun, tidak ada sebuah petanda apapun dan tidak pernah ada khayalan seperti ini", katanya pada dirinya sendiri. Memang betapa kebahagiaan itu seakan pecahan surga yang Tuhan berikan padanya dari langit secara langsung dan secara khusus untuknya. Jiwa penghayal yang dulu seakan menjadi satu kehidupannya di dunia lain, kini patut untuk dia tinggalkan. Karena mimpi telah menyata, karena harapan telah bertunas, karena doa telah terkabul. Ketika pada saat yang sama setiap hari dia hanya bangun dengan bertemankan kamar yang penuh dengan debu, kemudian kasur, bantal, dan beberapa baju yang tergantung. Kini disamping tempat tidurnya telah ada sebuah keranjang dengan bayi mungil yang tengah tertidur penuh damai didalamnya. Impian dan kegundahannya yang senantiasa mengusik kicau kebahagiaannya seakan telah terbayar lunas. Terbayar tepat saat kemarin pagi ketika akan membuang sampah ke tempat sampah di depan rumah, dia melihat sebuah kardus yang entah dari mana asalnya.
"kresk….kresk…."suara dari dalam kardus itu entah tiba-tiba seakan menjadi suara para nabi yang memanggil umatnya. Entah muncul dari mana sebuah firasat untuk bergerak melangkah dan mencari tahu apa yang terdapat didalamnya. Dia coba untuk mematikan gejolak penasaran yang membara.
"paling suara tikus", katanya dalam hati enteng.
Namun entah mengapa kardus itu seakan menyihir setiap telinga yang mendengarnya, menyulap ketakutan menjadi sebuah keberanian sebesar gunung Merapi, menyibak rasa keingintahuan yang sedalam hati manusia. Akhirnya dia tunaikan kebutuhan batinnya. Dia datangi kardus itu dan dilihatnya sebuah kresek hitam yang bergerak-gerak. Semakin mendalam pikiran ini mengira-ngira. Dan ketika tangan ini telah memiliki seribu daya malaikat untuk membukanya, hatinya terkejut bukan kepalang. Disana dia melihat bayi yang masih berlumuran darah dengan wajah sedikit membiru. Sejurus kemudian keduan tangan Tuhan yang dia wakilkan padanya sanggup mengangkat tubuh mungil itu dan lidah ini lalu "toloong….."suaranya memecah pagi penuh kehangatan. Kontan seluruh warga pemukiman yang cukup padat penduduknya itu berhamburan menyerbunya. "aku menemukan bayi di kardus itu…"dia menjelaskan sebelum warga bertanya, sebelum warga mengira sebuah dosa telah diperbuatnya. Namun kepanikan akan bayi yang lunglai itu segera membuatnya mampu berlari menuju rumah bidan yang tepat ada disamping rumahnya. Dia sendiripun tidak menyadari kekuatan apa yang tiba-tiba merasuk didalam dirinya, sehingga seakan jiwa bayi itu adalah jiwanya, hidup bayi itu adalah hidupnya, ruh bayi itu adalah ruhnya. Sehingga begitu besar kepeduliannya. Setelah melalui proses panjang akhirnya sang bayi dinyatakan selamat. Polisi, setelah mendapatkan laporan dari warga sekitar tak pelak segera dating kelokasi untuk mengusut kejadian tersebut. Sampai saat itupun dia masih bingung, mengapa jiwa ini begitu peduli, mengapa muncul rasa sebuah ketamakan yang luar biasa menyeruak memasuki tiap centi hatinya. Seakan tanpa sadar dia memberanikan diri menggerakkan lidahnya yang sedari tadi kelu melihat kondisi sang bayi. Kelu karena merasakan duka yang amat ketika membayangkan betapa hati ibu bayi itu telah membatu sehingga tega melepaskan dari pangkuannya sebuah permata yang tiada satupun emas dan perak yang sepadan.
"Pak RT, ijinkan aku merawat bayi ini, tolong bantulah aku bagaimana prosesnya…",suaranya lirih. Layaknya anak balita yang melihat mainan kegemarannya sehingga tidak akan berhenti merengek sampai apa yang dia rasakan dapat dia dapatkan.
Laki-laki berkulit hitam itu berdiam diri. Sambil memandang wajah bayi yang perlahan mulai membaik. RT itu kmeudian berdiri dari tempat duduknya, sambil melangkahkan kakinya keluar tak lama kemudian terlihat bicara dengan beberapa warga kemudian mengajak polisi yang ada disampingnya bicara, mungkin untuk mengetahui bagaimana bagusnya.
Setelah bermusyawarah dengan warga, ketua RT itu bertanya"kamu yakin mampu merawat bayi itu…"
Dengan suara yang masih tetap lirih"kalian mungkin melihat seuatu yang sulit untuk aku lakukan, tapi aku akan berusaha dan aku akan berjuang siang malam"
Akhirnya warga dan polisi itu mengijinkansupaya bayi itu dirawat olehnya sambil proses administrasi selanjutnya diproses.
Kebahagiaan yang ia rasakan seakan pecahan surga yang Tuhan berikan padanya dari langit secara langsung dan secara khusus untuknya. Dengan ketidaksempurnaan yang ada padanya, kini hidupnya tanpa celah. Sebagai waria, meskipun telah operasi alat kelaminnya namun jiwa keibuan itulah yang menjadikannya begitu iba melihat penderitaan yang harus dirasakan oleh seorang bayi yang belum memiliki dosa, jiwa pantang menyerahlah yang membuatnya kuat untuk hidup. Meskipun dengan tekanan, cacian dan pengucilan social yang kerap kali dilakukan masyarakat kita kepada orang sepertinya. Dia tetap memperjuangkan dirinya untuk tetap bersabar, untuk tetap membiarkan hatinya seluas langit dan bumi, sehingga tidak perlu ada yang disesali dan dia benci.
Kekuatan itulah yang membuatku damai untuk memilihnya menjadi pasangan hidupku.

Surabaya, 5 Desember 2007
06.00-07.00
Kamar kost
RK PA FK UNAIR

jawapos 8 Desember 2007

Tidak ada komentar: