Kamis, 12 Februari 2009

KIRIMAN DUKA CLEOPATRA

Tidak bosan bosan aku merindukan sebuah rasa. Kehangatan akan canda, kemesraan akan tanya, dan keindahan akan cinta. Ketika sudah ribuan bait yang tercipta sebagai wujud dari anugrah tiada tara. aku masih saja terdiam duduk dalam sebuah gelap dengan baluran angin yang bertemankan butiran air mata dari surga.
Kesadaran akan lamunan kini merekah, aku duduk di atap rumah seperti malam sebelumnya, persis seperti hari sebelumnya, sama seperti saat-saat sebelumnya. Aku tatap luasnya langit, tempat bintang-bintang itu tinggal, dunia bagi burung untuk terjaga, media terbesar bagi impian untuk berkubang. Jalanan gang depan rumah dapat jelas terlihat dari tempatku duduk, tampak jasad kecil yang berlarian berkejaran dengan ibunya yang sudah kelelahan mengejar anaknya untuk bisa menyuapkan sesendok atau dua sendok nasi. Jauh disana terlihat pohon besar yang meniupkan kedamaian, tempat para malaikat meletakkan harapan. Gambaran duka itu bukan sekedar melintas dihadapanku, tetapi seakan melekat dipelupuk mata ini. Sehingga ketika mata terpejam atau terbuka, ketika lidah berkata atau terdiam, ketika kaki melangkah atau melumpuh. Duka, duka ini masih dengan tajam bersandar.
Sore ini, seperti biasa dimana setiap hari harus aku jalani tugas rutin disebuah rumah sakit. Aku telah memilih untuk mengabdikan hidupku sebagai seorang yang akan membantu sesama. Karena bagiku tiap nyawa memiliki harga. Seharga cinta, tawa, duka, canda, airmata dan nestapa. Namun hari ini entah mengapa ada yang berbeda. Mengapa, riwayat yang aku tobat terhadapnya kini sekan melintas dengan cepat namun menjadi magnet hati yang melemahkan diri ini untuk berhenti membayangkannya. Aku masih mengenakan jas putihku dan duduk bertemankan meja dan tumpukan berkas. Dengan stetoskop abu-abu didepanku. Tempat ini sekan tempat kegundahan hati manusia bertumpuk. Ruang gawat darurat yang memberikan pelayanan bagi kejadian kegawatan yang terjadi bagi masyarakat.
Biarkan aku merindumu, karena aku manusia
Biarkan aku membayangkanmu, karena itu bukan dosa
Biarkan aku melamunkanmu, karena itu obat lara
Biarkan, biarkan, biarkan
Entah kata-kata itu muncul dari benakku dan kutulis pada sebuah tisue yang ku ambil dari kotak berwarna putih diatas tumpukan kertas. Entah hari ini mengapa begitu kusam, seperti aku merasakan ketika adam akan diusir dari surga. Hingga tiba-tiba saja lamunanku tersentak oleh auman sirine dari ambulan yang tiba-tiba saja masuk gerbang rumah sakit. Gerbang dengan hiasan taman diantara pintu masuk dan pintuk keluar. Dengan segera seluruh perawat berbaju putih-putih itu segera berdiri mengambil sebuah kereta pasien dan menuju pintu keluar tepat melintasi samping kanan dimana aku terduduk. Belum sampai kereta pasien itu benar-benar keluar dari ruangan, datang seorang wanita separuh baya, berjilbab putih dengan map putih ditangannnya, jelas aku sudah tahu apa isinya. Pasti ini adalah perawat yang merujuk pasien ini dari puskesmas dengan membawa catatan medis kondisi pasien.
"Pasien wanita 30 tahun baru saja melahirkan anak kedua, terjadi perdarahan", cerocos ibu dengan suara tergagap. Pasti kekhawatiran akan keselamatan pasiennya lah yang membuat ibu ini begitu panik. Sambil lalu aku menuju ruangan dimana pasien itu akan diberikan penanganan pertama. Disini peranku, membantu pasien untuk minimal bisa membuat kondisinya stabil sebelum tindakan medis untuk mengatasi penyebab dapat dilakukan. Segera saja ku buka tirai bersih berwarna hijau, ruangan sebesar 3X4 m dengan berbagai kelengkapannya.
Kereta pasien sudah masuk diruangan dan partner kerjaku, perawat yang bijak dan sigap itu langsung memasukkan kereta itu kedalam ruangan. Segera tirai ku tutup. Segera ku mulai tugasku, kuperiksa kesadarannya. Namun, badai tsunami seakan menghantam hatiku mulai dari permukaan hingga menembus bagian terdalamnya.
"Indah..."lidahku lemah untuk berkata. Dua pondasi yang tuhan berikan padaku seakan tidak lagi memiliki kakuatan. Ya,...indah. adalah wanita yang hingga hari ini masih menjadi penyebab aku belum menjatuhkan pilihan untuk segera melengkapi hidupku dengan pernikahan. Indah, teman sekelas saat aku masih duduk dibangku kuliah. yang tuhan berikan rasa kepadaku. Rasa kekaguman, perhatian, dan yang menyejarah adalah cinta. Namun aku tetap menyadari aku belum siap untuk itu, aku bukan siapa-siapa. Hanya mahasiswa datang dari desa untuk menuntut ilmu. Sehingga perasaan ini ku simpan saja tanpa ada yang mengetahuinya. Kami tidak bisa memilih ketika jalan hidup yang membuat pertemuanku dengannya sedemikian sering. Pertemuan itu seakan selalu menambah satupersatu kekuatan akan kecintaanku pada satu keagungan ciptaan tuhan. Sampai akhirnya aku benar-benar merasakan duka, ketika aku menerima sebuah lembaran bertuliskan namanya yang bersanding dengan nama seorang laki-laki yang sudah cukup akrab denganku. Sebuah undangan pernikahan yang akan dilangsungkan bulan depan. Badai yang sama kini kurasakan ketika aku harus menghadapinya. Aku terdiam cukup lama. Sampai Mbak Nah, salah satu perawat di rumah sakit ini bertanya apa tindakan yang akan diberikan. Aku langsung melanjutkan perkerjaanku. Memberikan instruksi dan melakukan upaya apa yang bisa aku lakukan demi menyelamatkannya. Karena cinta ini masih hangat, karena asmara ini tetap melekat, karena karinduan ini begitu kuat. Wajah riang dulu, kini demikian dingin, pucat tanpa hiasan senyum terindah yang pernah ada dibumi.
Lalu suara laki-laki yang cukup ku kenal berkata, "dokter, tolong selamatkan istriku..."suara laki-laki yang masih kuingat namanya tertulis bersanding bersama nama Indah. Kesadarannya kian melemah, akhirnya kuberikan tindakan untuk memberi pijatan pada jantungnya, dengan menekan dada supaya jantungnya bisa kembali berfungsi sehingga dia bisa selamat. Namun, sudah lebih dari 10 menit ku berusaha. Aku tidak ingin kalah. Malaikat pencabut nyawa seakan sedang beradu kekuatan denganku. Sampai akhirnya mbak Nah menyadarkanku. Bahwa pasien ini telah tiada. Terlambat sudah untuk menyelamatkannya. Perdarahan yang kian tinggi tidak dapat untuk ditangani. Seketika itu juga lelaki itu melalui tubuhku dengan keras. Beriringkan teriakan histeris dia peluk tubuh indah. Dan airmata tiba-tiba saja meleleh demikian deras dari kedua mataku. Indah, sebuah kisah warisan cleopatra. Masih saja menjadi duka. Duka bagi setiap insan yang merasa. Bagi setiap jiwa yang bernyawa.

Surabaya, 11 Januari 2008
21.00-22.00 WIB
Kamar kost

Tidak ada komentar: