Saya ingin menuliskan artikel ini dari sebuah cerita yang disampaikan oleh saudara. Kisah yang menceritakan tentang seseorang ustadz yang memeiliki peliharaan burung, ya burung itu adalah seekor burung beo.
Dengan lingkungan yang dimiliki ustadz tersebut sangat memungkinkan beo itu untuk dilatih berbicara kata-kata yang baik, bahkan kalimat dzikir, tasbih, tahlil dan tidak ada kontaminasi suara dari luar. Sampai burung itu benar-benar fasih dan lancar mengucapkan kalimat thoyibah yang diajarkan.
Sampai suatu hari, demi mendengar suara "keok…keok…" dari arah kandang burung beonya. Dia bergegas untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Benar saja, ternyata sang ustadz lupa menutup kandang beo itu dengan tirai yang biasa digunakan. Segingga datang seekor kucing dengan leluasa dan menerkamnya. Dan ustadz itu datang tepat ketika beo itu tak lagi bersuara dengan gigi kucing melekat dikepala si beo.
Namun sertamerta ustadz itu lari kedalam kamar. Membuang dirinya dari segala aktifitas dakwah dan pengajaran di pesantren yang dia bina.
Santri dan keluarga ustadz itupun menjadi bingung karena tingkah aneh sang pemilik beo. Mengapa hanya karena kematian seekor burung dia meninggalkan kehidupan yang biasa dia jalani.sampai akhirnya santri itu mengirimkan utusan untuk menemui sang ustadz. Ditanyakan mengapa guruntya itu menjadi demikian.
"Ini karena burung beo itu…. "
"jika memang kesedihan ustadz karena burung beo, kami akan membelikan puluhan burung beo yang lain agar ustadz bisa segra kembali beraktifitas" utusan itu menjawab
"bukan, bukan itu masalahnya. Burung beo itu telah lama hidup bersamaku. Tiap pagi dia akan berbicara kalimat tasbih, tahlil, tahmid seperti yang selalu kuajarkan padanya. Tapi tahukah kau. Ketika ajal datang dan dia meregang nyawa. Kalimat thoyibah itu tidak muncul. Dia hanya meneriakkan keok…..keok….
aku menjadi takut dan ragu. Mungkin hari ini lisan ini demikian fasih membacakan alquran, demikian khusuk menguraikan dzikir, demikian menggebu menyampaikan dakwah. Tapi aku takut ketika ajalku nanti datang, lisanku tidak dikehendaki oleh Allah untuk mengucapkan kalimat thayyibah itu….:kalimat LAA ILAA HA ILLALLAH"
Sahabat, janganlah kitakemudian menjadi terlalu peraya diri dengan rutinitas kita untuk membaca alquran, membasahi lisan kita dengan dzikir atau bicara hanya kebenaran. Namun tetap tanamlah ketakutan dalam diri bahwa jangansampai ketika hampir mencapai garis finis, kita tidak memiliki daya untuk mengucapkan kalimat persaksian akan ke Esa-an Allah sang pemilik sejati.
Apalagi kita tidak pernah membasahi lisan dengan dzikir, tilawah atau perkataan yang syarat akan manfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar